Sabtu, 25 Mei 2013

Versi Teks Death Note chapter 3 bagian 1


---Di suatu tempat di dunia Shinigami---

“Hey, sudah lama kita tidak melihat Ryuuku, ya?” “Apa dia benar-benar serius menjatuhkan Death Note miliknya ke dunia manusia?” “Aku dengar seorang manusia menemukannya lebih dulu sebelum Ryuuku.” “Tidak mungkin… itu berarti dia harus menunggu manusia itu mati atau notebook itu penuh.” “Aku tidak tahu… kupikir dia tidak akan melakukan sesuatu yang bermasalah seperti ini.” “Tapi kita tidak pernah tahu apa yang sebenarnya dia lakukan.” “Tidak hanya itu, dia sudah menghilangkan dua notebook sampai saat ini” para shinigami saling membicarakan Ryuuku. “Kenapa dua?”


Raito sedang dudk di pintu geser beranda kamarnya, melihat pemandangan di luar sana.

“Kau kelihatan lelah, Raito..” ucap Ryuuku.

“Aku sedang beristirahat sebentar, aku ingin melihat apa yang akan polisi lakukan.” Ucap Raito. Nampaknya dia masih memikirkan ucapan orang yang bernama L pada siaran langsung waktu itu. “…Dan aku rasa aku agak sedikit lelah juga.”

“Semua yang kudengar hari ini adalah pembicaraan tentang L dan Kira. Aku tidak bisa menghindarinya. Tapi jika aku bukan Kira, mungkin aku juga sudah menikmati itu.” Ucap Raito sambil mengambil sebuah majaah di dekatnya lalu membacanya. “’Interpol Detektif L melawan Kira si pembunuh psiko’.” Ucapnya. “Tidak hanya itu… ‘L, Kira, cara polisi membunuh Pelanggar Hukum.’ Semua majalah yang lain juga mengatakan hal yang sama. Tv dan stasiun radio juga sama. Kira pasti lelah dengan ini semua.” Raito melempar majalah itu kesampingnya.

“Ada kalanya aku harus lebih santai dan beristirahat…” ucap Raito lagi.

“Santai? Untuk seseorang yang sedang diburu oleh polisi, kau memang benar-benar percaya diri.” Ucap Ryuuku.

“Percaya diri… ya…” Raito berdiri dan mengambil buku Death Note-nya. “Ketika aku pertama kali menemukan notebook ini, ada pemikiran bahwa aku akan membersihkan dunia ini dari kejahatan. Karena aku percaya aku bisa melawannya, jadi kekuatan ini berada didalam genggamanku.”

“Percaya diri…” pikir Ryuuku.

CRRRKK!! Tiba-tiba ada yang ingin membuka gagang pintu kamar Raito, membuat Raito tersentak kaget.

“Raito nii-san, kenapa kau kunci pintunya?!” tanya seseorang dari luar.

“Oh, Sayu…” Ucap Raito mengenali suara itu. “Ada apa?”

“Bantu aku mengerjakan PR!” ucap orang yang bernama Sayu itu. Raito buru-buru menyembunyikan Death Note-nya lagi.

“Oh, iya… tunggu sebentar.”




Raito membukakan pintu, dan adik perempuannya yang bernama Sayu itu masuk sambil mengacungkan buku, “Persamaan Kuadrat!”

“Ya, ya.”

“Raito, hati-hati!!” ucap Ryuuku tiba-tiba. Suara dan wujud Ryuuku hanya Raito yang mampu melihat, jadi Sayu tidak merasakan ada yang aneh. “Jika seseorang menyentuh Death Note itu, maka mereka juga akan bisa melihatku…”

“Kenapa hal sepenting ini baru dia beritahu sekarang?! dasar shinigami yang satu ini…” pikir Raito yang mulai gelisah karena adiknya duduk di meja yang dilacinya tersimpan Death Note.

“Aha! Kau membaca majalah porno?” tany Sayu mengambil majalah yang tadi dibaca Raito. “Jadi itu sebabnya kau mengunci pintu? Apa di majalah ini ada gambar pornonya, ya?” Sayu terus mencari-cari.

“Hey! Hey!” Raito merebut majalah itu, “Aku hanya melihat artikel tentang L dan Kira!”

“Oh iya, benar. Suatu hari nanti kau akan menjadi detektif, kan? Jadi kau bisa mengambil referensi dari sini juga, kan?”

“Ya… suatu hari nanti kau akan melihatku menjadi kepala detektif nasional…” ucap Raito.

“Kalau orang lain bisa, kakak juga pasti bisa!” ucap Sayu.

“Jadi, darimana kepercaya-dirian itu datang…” pikir Ryuuku. “Tapi dia pikir berapa lama ini bisa bertahan? Apa yang dia pikirkan?”

-----Di suatu tempat, orang bernama L sedang diam memikirkan sesuatu. Ia memakai baju kaos lengan panjang yang kasual, dan celana jeans. Namun sampai saat ini wajahnya belum diperlihatkan-----
“Kenapa Kira belum bisa membunuh?” pikir L yang masih heran karena sejak siaran langsungnya kemarin, nyawanya belum juga terenggut. “Apa dia tidak membunuhku karena aku bukanlah seorang kriminal? Tidak… pada situasi waktu itu jelas dia mencoba membunuhku… jadi ini pasti karena dia tidak tahu seperti apa aku sebenarnya…”

Komputer di dekat orang bernama L itu berbunyi, “L….” panggil seseorang dari layar monitor.

“Ada apa, Watari?”

“Laporan investigasi sedang dimulai…” ucap Watari.

“Bagus, hubungkan aku.”

-----Di kantor “Spesialis Bagian Investigasi Pembunuhan Berantai”-----

“Mari kita mulai lapora para korban..” ucap salah seorang yang nampaknya memimpin investigasi di ruangan itu.

“Baik, Pak.” Seseorang menjawab dan mengambil kertas laporan untuk dibacakan. “Seluruh laporan mengenai korban akibat serangan jantung dapat dipastikan didapatkan pertama kali dari Jepang. Sebagai tambahan…” Ia melirik seseorang bernama Watari yang memakai pakaian yang menyembunyikan identitasnya. “Mengenao tenggag waktu kematian-kematian ini, sesuai dengan yang L minta… Senin sampai Jumat kematian terjadi pukul 4 sore sampai pukul 2 pagi, waktu Jepang. Hari Minggu dan hari libur antara jam 11 siang dan tengah malam. Semua waktu itu secara acak.”

“Hm, baiklah… selanjutnya, bagaimana laporan publik?” tanya si ketua itu, Ia memakai kacamata.

Anggota investigasi yang lain berdiri dan membacakan laporan, “Sampai hari ini kami telah menerima 3029 telepon dari masyarakat. Banyak dari mereka yang menanyakan, ‘Apa yang ditayangkan ICPO secara langsung itu benar?’ ‘Apa L itu nyata?’ dan seterusnya… Kami menerima 14 telepon yang menyatakan ‘Aku tahu Kira’ ‘ Aku lihat Kira’… kami merekamnya. Namun setelah kami teliti, ternyata laporan-laporan tersebut meragukan.” Ucapnya. “Kami juga menerima 12 telepon yang mengatakan ‘Aku Kira’. Sejauh ini hanya berupa kemungkinan, jadi kami hanya menindaklanjutinya dengan cara mencatat saja.”

“Baik… semua itu sudah dirangkum.” Ucap si ketua. “Apa ada lagi yang hendak menambahkan?”

Seseorang mengangkat tangannya. “Silahkan, Matsuda.” Ucap si ketua  pada orang itu.

“Aku tidak bermaksud memberi penghargaan kepada Kira, tapi… Akhir-akhir ini tingkt kriminalitas di seluruh dunia khususnya Jepang menurun tajam.” Ucap orang bernama Matsuda itu. Lalu Ia diam, menunggu tanggapan.

“Hmm.. aku rasa semua orang sudah tahu bahwa ini akan terjadi…” ucap si ketua. “Yang lain?” tanyanya pada anggota investigasi itu, namun tampaknya tidak ada yang punya laporan atau tanggapan lagi. “L, itu semua yang dapat kami sampaikan.” Ucap si ketua ke arah laptop yang dibawa Watari.

“Terima Kasih… Kurasa kita semakin dekat…” ucap L. “Sebelum aku pergi, aku akan meminta satu hal lagi… ini untuk Unit Korban, Unit Media, dan Unit Internet… aku minta untuk berhati-hati dalam menyampaikan informasi mengenai pelaku kejahatan melalui media. Aku ingin tidak ada gambarnya ketika pelaku ditayangkan. Terima kasih atas kerja samanya.”

Watari lalu menutup laptopnya.

“Sebagai catatan, shift malam akan dibagi menjadi dua team. “Kalian bisa melanjutkan investigasi atau pulang ke rumah untuk istirahat. Sekian.” Ucap si ketua menutup investigasi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar