Jumat, 19 April 2013

Versi Teks Amnesia episode 2 bagian 1

Sebelumnya: episode 1

Gadis-gadis bertopi misterius itu menginjak foto ‘gadis’ itu yang terjatuh ke bawah kakinya.

“Kau… lupa akan janjimu, ya!?” bentak gadis bertopi.

“Hah…?” sang gadis yang hilang ingatan itu tiba-tiba mengingat sesuatu… ada gunting… rambutnya tergunting… lampu jalan di dekat sana berkedip-kedip dan mati tiba-tiba. Lalu perlahan-lahan seorang gadis berkuncir kuda datang.


BRUKKK!!! Tiba-tiba saja gadis yang hilang ingatan itu ambruk…


P/s: Gadis yang hilang ingatan ini tidak pernah disebut namanya, jadi untuk memudahkan bercerita saya akan memanggilnya Heroine, sesuai dengan nama yang sering disebut di berbagai situs internet. Arigato.

Jemari Heroine bergerak perlahan, Ia mulai sadar dari pingsannya…

“Ah, syukurlah kau sudah sadar!” ucap Orion yang terbang disamping Heroine. Gadis itu terkejut mendapati dirinya tertidur di tengah jalan dan langsung mengambil posisi terbangun. “Tenanglah, mereka sudah tidak ada.”


Setelah sampai di rumahnya, Heroine melihat ke cermin dan memperhatikan ujung-ujung rambutnya, “Tidak terpotong, kan?” tanyanya.

“Sepertinya itu hanya bagian dari ingatan saja…” ucap Orion.

Gadis itu menggeleng, “Aku tidak bisa mengingatnya.”

“Apa mereka pernah melakukan itu padamu sebelumnya?” tanya Orion.  “Memotong rambut wanita itu tindakan kriminal! Itu kriminal!”

“Tapi…” ucap Heroine mengalihkan pandangannya, “Sebelum aku kehilangan ingatanku, bahkan sekarang, rasanya mengerikan jika mereka memotong rambutku, aku… merasa sangat dibenci,… merasa dianggap rendah…”

“Aku bisa memahaminya.”

“Mereka mengatakan ‘sebuah janji’, ya?” tanya Heroine. “Apa itu…?”

“Umm… berarti sebelum kau kehilangan ingatanmu, kau pasti sudah menjanjikan sesuatu kepada mereka. Dan karena ingatanmu hilang, kau jadi tidak bisa menepati janjimu, kan?”

“…”

“Aku ragu apakah mereka mau memberitahu kita tentang janji itu, meski kita memintanya..” ucap Orion berkecil hati. “…Mereka bisa saja mengambil keuntungan dari hilangnya ingatanmu dan berbohong padamu.” Ucapnya. “Jika begitu, menurutku kau harus tetap menjaga rahasia ini. Orang-orang di tempatmu bekerja sepertinya bukan orang-orang yang jahat, tapi kita juga tidak tahu seperti apa teman masa bermainmu, Toma dan Shin contohnya…”

“…Dan sekarang ada orang lain yang membawa masalah baru padamu… rahasia ini tidak boleh sampai bocor.” Ucap Orion lagi.

“Aku mengerti.” Ucap Heroine. “Aku tidak tahu janji apa yang kukatakan pada mereka,…” Ia melihat ke arah fotonya yang dicoret-coret. “Tapi, aku pasti sudah mengingkari janji itu…Mungkin saat ini, aku sudah menyakiti atau membuat mereka sedih…”

Meido ni Hitsuji.

Heroine mengambil perlengkapan pelayannya di loker café dan memakainya. Seorang perempuan berambut cokelat yang waktu itu datang melihat Heroine―ketika Ia pertama kali bangun dan hilang ingatan―menghampirinya dan bertanya,

“Apa kau sudah baikan?” tanya perempuan itu.

“Ya, maaf sudah membuatmu khawatir.” Ucap Heroine. Di belakang perempuan itu , ada satu lagi perempuan yang berambut merah muda panjang. “Aku belum bisa bekerja dengan cepat, tapi…”

“Tenanglah, kami akan membantumu.” Ucap perempuan berambut cokelat yang juga sama-sama pelayan di café itu.

“Sawa-senpai, kau memang bisa diandalkan!” ucap perempuan berambut merah muda kepada perenpuan yang berambut cokelat.

“Tidak hanya aku, kau juga harus membantu.” Ucap perempuan berambut cokelat yang bernama Sawa.

Orion mendekat ke Heroine dan berbisik, “Menurutku kita bisa mempercayai mereka…” ucapnya. Heroine hanya tersenyum.

“Senpai?” ucap perempuan berambut merah muda memanggil Heroine. “…Ada yang berbeda darimu…” seketika Heroine dan Orion terkejut dengan ucapan gadis itu.

“B-Benarkah?” tanya Heroine.

“Kurasa tadi sudah berjalan lancar,  tapi kenapa kita sepertinya berada dalam masalah!?” ucap Orion.

“Jika kau tidak bisa menjelaskannya, aku tidak bisa memberitahukannya, tapi aku merasa ada yang berbeda.” Ucap gadis berambut merah muda itu.

“Dia akhir-akhir ini sering pingsan,” ucap Sawa. “Tapi dia kan memang seperti itu.”

“Bagus sekali!!” ucap Orion ketika akhirnya ada yang membela mereka.

“Oh iya…” ucap perempuan berambut merah muda seperti mengingat sesuatu. “Hari ini kita akan berkumpul untuk membahas kunjungan itu.”

“Eh?”

“Kunjungan?” ucap Orion. “Sebaiknya kau tidak usah ikut, oke?”

“Apakah semuanya harus ikut dalam perkumpulan itu?” tanya Heroine.

“Kau bicara apa? Itu adalah masa orientasi kita selama bekerja part time, jadi kita semua sebaiknya ikut dalam diskusi itu.” Ucap gadis berambut merah muda.

“Eh, maksudku, apa semua orang akan datang?”

“Ya.” Jawab Sawa. “Awalnya Shin berkata kalau Ia tidak bisa ikut karena dia harus belajar untuk persiapan ujian, tapi…” Sawa teringat kata-kata manager mereka ketika sedang menasehati Shin: “Berlibur dapat meningkatkan keberhasilan belajar untuk persiapan ujian.” Ucap manager-nya waktu itu. “Jadi, Shin juga ikut. Akhirnya kita semua bisa ikut, ya~” Lanjut Sawa.

“Benar juga. Aku juga sudah tidak sabar.” Ucap Heroine berpura-pura―tentu saja.

“Ne, senpai… kau terlihat tidak senang…” ucap gadis berambut merah muda.

“Itu tidak benar.” Ucap Heroine dengan senyum yang nampak dibuat-buat.


 
http://esti-widhayang.blogspot.com/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar