Rabu, 20 Februari 2013

Versi Teks Amnesia episode 1 bagian 2


Sebelumnya: episode 1 bagian1

“Apa kau dari tadi tidak mendengarkan?” tanya Toma.

“Aku tidak bisa mengikuti pembicaraannya.” Pikir gadis itu. “Aku kenal dengan orang ini, tapi aku tidak mengingatnya…”

“Oi, aku rasa dia…” ucap Toma yang curiga dengan tingkah laku gadis itu.
“Sudahlah, jangan bersikap seperti seorang wanita tua.” Ucap Shin.

“Hampa…” pikir gadis itu.

“Wanita tua!?” tanya Toma.
“Kau suka ikut campur, seperti wanita tua.”
“Aku hanya khawatir padanya.” Ucap Toma. “Selain itu, kau…”
“Ini bukan urusanmu.”

“Terasa hampa…” pikir gadis itu. “Bukan hanya mereka… sebenarnya, siapa aku ini?” gadis itu jadi melamun, dan tertinggal jauh oleh Shin dan Toma.

“Oi.” Panggil Toma menyadarkan. Begitu sadar, gadis itu cepat-cepat berjalan, bahkan sampai mendahului Shin dan Toma.

“Mau kemana kau?” tanya Shin ketika gadis itu melewatinya.

“Eh?”

“Ini rumahmu, kan?” Toma menunjuk apartemen yang letaknya sudah tepat di depan mereka.

“Disini?” tanya gadis itu bingung.

“Jangan berpura-pura tidak tahu.” Ucap Shin. “Apa kau tidak apa-apa sendirian?”

“Eh?”

“Bagaimana kalau kita menjaganya sebentar?” usul Toma.
“Kau tidak perlu melakukannya.” Ucap Shin.
“Kau terlalu kasar.” Ucap Toma.

“Um… aku akan segera tidur setelah masuk.” Ucap gadis itu. “Terima kasih untuk kalian berdua yang sudah mengantarku pulang.”

“Apa kau benar baik-baik saja?” tanya Toma.

“Y-ya.”

“Tapi—“

“Oi, cepat pergi…” ucap Shin berjalan pergi sambil menyeret tangan kakaknya itu.

“Jangan menyeretku.” Ucap Toma. “Jika ada apa-apa, jangan sungkan untuk menelpon.” Ucap Toma pada gadis itu. “Tidurlah yang nyenyak.”


“Apa yang harus kulakukan…?” pikir gadis itu setelah masuk ke rumahnya.

“Kau tak tahu?” mahkluk terbang itu muncul lagi. “Sepertinya benar.” Ucap mahkluk itu.

“???”

“Kau kehilangan ingatanmu dari sebelum tanggal 1 Agustus.” Ucap Mahkluk itu.

“Benarkah?”

“Aku telah bersamamu selama empat hari,” ucap mahkluk itu lagi. “Tapi kau tdak tahu siapa aku sebenarnya?”

“Maafkan aku.”

“Kau tampaknya bingung dengan semua hal. Jadi akan kujelaskan semuanya dari awal. Pertama, kita mulai dengan perkenalan, namaku adalah Orion. Aku arwah yang berasal dari dunia lain.”


 
“Arwah?”

Mahkluk bernama Orion itu mengangguk, “Benar. Asal tahu saja, hanya kau yang bisa melihatku, dan suaraku tidak bisa didengar oleh orang lain.” Ekspresi gadis itu berubah kebingungan. “Apa? Kau melihatku seolah aku seekor serangga.”

“Aku tidak berpikir kau adalah serangga atau apapun.” Ucap gadis itu.

Orion menunduk tersenyum, “Kau punya reaksi yang sama ketika pertama kali bertemu denganku.” Ia masih tersenyum. “Tak apa-apa, sih. Jadi, sebenarnya… um… em, sebenarnya ini adalah salahku.”

“???”

“Maksudku, alasan hilangnya ingatanmu…” ucap Orion. “Ketika aku datang ke dunia ini, aku terseret masuk ke dalam tubuhmu, apa kau tahu? Itu masalah yang besar buatku. Ahahaha…” ekspresinya tiba-tiba berubah, dari tertawa menjadi ekspresi bersalah. “Aku benar-benar minta maaf!”

“Apa maksudmu?”

“Di suatu tempat di dalam ingatanmu…” ucap Orion. “Dengan kata lain, aku terjebak dalam jiwamu…”

“Tunggu sebentar, aku tak mengerti apa maksudmu.” Ucap gadis itu yang sampai sekarang kita tidak tahu namanya. “Tunggu, kenapa aku tidak boleh pergi ke rumah sakit?”

“Karena pergi ke rumah sakit tidak ada gunanya.” Ucap Orion. “Ingatanmu hilang bukan karena masalah dengan pikiran atau tubuhmu. Kau harus mendapatkan ingatan itu kembali dengan jalan berinteraksi kepada orang lain. Jika kamu dirawat dan sendirian… kau tak bisa berbicara pada seseorang… dan tidak bisa menemukan ingatanmu yang indah bersama mereka. Jika terus seperti itu, kau bisa lupa bagaimana cara minum, cara bernafas, dan kau akan—“

Orion tidak melanjutkan dan beralih topik, “Jadi, agar hal itu tidak terjadi, kau harus berpura-pura tidak mengalami amnesia dan berhati-hati—“

“Tapi,” potong gadis itu. “Aku masih tidak mengerti apa-apa… aku tidak bisa mengingat siapa aku sebenarnya…”

“Maaf.” Ucap Orion.

                                                                -----Amnesia-----

Toma dan Shin kembali menyusuri jalan untuk kembali sehabis mengantar gadis itu.

“Apa dia benar baik-baik saja?” tanya Toma masih saja khawatir. “Aku khawatir dengan keadaannya, apa dia bisa ikut bepergian?”

“Lebih baik mulai sekarang kita awasi dia.” Ucap Shin. “Aku mengandalkanmu.”

“Tentu saja, itulah yang akan aku lakukan.” Ucap Toma.


“Bagaimana dengan Shin dan Toma? Dua orang yang mengantarmu pulang, dan bekerja di tempat yang sama denganmu…” ucap Orion. “Mereka pulang bersama seperti sudah berteman sejak kecil.”

“Kau benar.” Ucap si gadis yang hilang ingatan sambil mengutak-atik kontak di handphone-nya.

“Tapi bahkan ketika mereka bercerita, kau tidak meresponnya, jadi aku rasa mereka pasti sudah curiga.” Ucap Orion.

“Yah.” Desah gadis itu. Ia sudah berhasil menemukan kontaknya, dan disana tertera beberapa nama seperti; Shin, Sawa, Toma, Mie, Meido no Hitsuji. “Ini semua data yang kupunya.” Ucap gadis itu sedih.

“Entah kenapa, data sebelum ini telah dihapus.” Ucap Orion. “Tapi setidaknya masih ada yang tersisa.

“Yah, kau mungkin benar, tapi…” gadis itu melihat sebuah foto yang tertempel di kamarnya itu, disana ada delapan orang termasuk dirinya sendiri yang memakai seragam pelayan.





Gadis itu melamun memperhatikan foto itu.

“Oi, oi, apa kau mulai bisa mengingat sesuatu?”


“…” Gadis itu terdiam sesaat. “Kenapa aku tidak bisa mengingat apapun…?” pikir gadis itu bertanya-tanya. “Bisakah aku mendapatkan ingatanku kembali…?”

“Apa kau baik-baik saja?” tanya Orion.

“Mungkin ini akan sulit…” pikir gadis itu.


“Oi, kau! Panggil Orion menyadarkan. “Kau tidak mendengarku, ya?”

“Eh? Maafkan aku.”

“Ini adalah hari yang berat, kau pasti sangat lelah. Sebaiknya kau tidur.” Ucap Orion.

“Ya…”

Orion tiba-tiba jadi merasa bersalah lagi, “Aku… aku akan lakukan yang terbaik untukmu, jadi…” mahkluk itu berusaha memegang tangan gadis itu, namun karena Ia hanya seorang arwah, tangannya hanya menembus gadis itu. “Selamat malam…”

“…Selamat malam….” Gadis itu lalu mematikan lampu kamar apartemennya.

Di kejauhan, sangat jauh, tepatnya dibawah apartemen, di dekat lampu jalan, berdiri seorang laki-laki berambut hijau panjang. Laki-laki itu tertawa dengan liciknya menatap tepat ke arah kamar apartemen gadis itu…



Selanjutnya: Episode 1 bagian 3
http://esti-widhayang.blogspot.com/


Tidak ada komentar:

Posting Komentar