Jumat, 07 Juni 2013

Versi Teks Death Note chapter 4



“Lalu mengapa kita bersembunyi di tempat kumuh seperti ini, Raito?” tanya Ryuuku setelah Raito menjelaskan ambisinya tentang membunuh keluarganya sendiri demi melindungi kerahasiaan Death Note.

“Siapa saja bisa melihatmu jika menyentuh Death Note, bukan? Aku tidak bisa membiarkan hal itu terjadi…”

“Kau bisa bercerita pada mereka bahwa aku hanyalah temanmu.” Ucap Ryuuku.

Raito tertawa, “Adikku akan terkena serangan jantung jika melihatmu.”

“…” Ryuuku hanya terdiam, Ia sepertinya tidak mengerti dengan lelucon yang dibuat Raito.

Sebuah api kebangkitan yang membara…


Di suatu tempat yang gelap, disamping sebuah computer, duduk seseorang bernama L. Pada scene ini wajahnya masih belum diperlihatkan.

“Saat di markas kepolisian, aku mengklaim berdasarkan waktu dari seluruh kematian, hampir bisa dipastikan bahwa Kira adalah seorang pelajar.” L berpikir keras. “Setelah itu dia mengejekku dengan membunuh empat puluh enam orang dalam dua hari… satu orang tiap jamnya… dia memperlihatkan kepada kami bahwa dia bisa memilih waktu dengan baik untuk membunuh. Sampai akhirnya, dia beraksi menumpas kejahatan untuk membasmi prasangka kalau dia adalah pelajar… apakah aku tertipu?”

L terus berpikir, “Dia juga memiliki jalan untuk mendapatkan informasi dari markas, itulah masalah sebenarnya. Tapi mengapa dia membiarkan kami tahu begitu banyak?” L berdiri. “Apa yang direncanakannya? Lagipula… entah bagaimana dia mendapatkan informasi dari kami… aku tidak bisa menghindarinya.”

Ia lalu menghubungi Watari, “Watari, ini aku. Aku mau kau keluar dari ruangan itu.”

Mendengar perintah L, Watari segera keluar dari ruangan itu dengan komunikasi yang masih tersambung. “Baiklah, ada apa, L?”

“Pergi ke sebuah tempat dimana tidak ada tim investigasi yang dapat mengamatimu, dan hubungkan aku dengan direktur FBI.”

“Belanja?!” tanya Ryuuku keheranan. Ia diajak Raito ke tempat perbelanjaan sekarang.

“Aku membutuhkan sesuatu untuk menyembunyikan notebook itu.” Ucap Raito sambil membuka gambar desain yang Ia buat. “Aku harus menyembunyikannya di tempat yang mudah dijangkau. Dan di tempat yang tidak pernah dilihat oleh keluargaku.”

“Lagipula…” lanjut Raito. “Aku harus mencari orang yang memiliki koneksi dengan polisi. Jika dia ingin menangkapku dia harus mendapatkan Death Note itu atau pengakuan dariku.”

Raito sudah masuk dan sedang memilih-milih barang, “Aku harus menyembunyikannya hingga mereka tidak bisa menyembunyikannya, meskipun itu dirumahku.”

“Raito, boleh aku bertanya sesuatu?”

“Tentu.”

“Darimana kau mendapatkan kepercaya-dirianmu? Apa karena kau bisa menggunakan ayahmu untuk mendapatkan informasi dari kepolisian?”

“Thank You.” Ucap sang kasir.

“Ya.” Ucap Raito menjawab sang kasir sekaligus pertanyaan Ryuuku. Mereka lalu berjalan ke luar dari tempat itu, “Aku bisa mengakses komputer ayahku melalui komputer ku tanpa meninggalkan jejak. Ini membuatku bisa mengawasi status investigasi itu.”

“Ini hanya rasa ingin tahuku saja, Raito. Jika kau curiga bahwa L sedang menyelidiki polisi itu sendiri untuk menangkapmu, kenapa kau malah memberinya petunjuk?” tanya Ryuuku. “Bukankah itu lebih buruk untukmu jika mereka tahu bahwa kau adalah pelajar dan mereka mencarinya?”

“Itu dugaan yang mengesankan untuk ‘orang yang ingin tahu’, Ryuuku.” Ucap Raito.

“…”

“Tapi, kau belum memahami manusia sepenuhnya. Seperti yang sudah kukatakan sebelumnya, manusia itu bodoh dan bermuka dua.” Ucap Raito. “Lagipula… ini untuk memburu dan menghancurkan L. Aku tidak akan menemukannya hanya dengan bersembunyi.”

“Disini, di antara para manusia, hanya sedikit orang yang saling percaya satu sama lain.” Ucap Raito lagi. “Bahkan diantara para penguasa. Dan terlebih lagi untuk polisi dan L. Karena sangat sulit untuk membuat orang percaya pada pertemuan pertama. Lagipula apa kau bahkan bisa percaya pada orang yang nama dan wajahnya tidak diketahui?!”

“L, setelah dia mengetahui investigasinya bocor, tidak diragukan lagi dia akan mencari orang yang membocorkan informasi itu dari kepolisian itu sendiri. Mereka tidak akan tinggal diam membiarkannya melakukan hal seperti itu, meskipun… meskipun kelihatannya L dan para penguasa bekerja sama untuk menangkapku di lapangan, kemungkinannya adalah…”

“L akan menyelidiki mereka secara pribadi, dan mereka, sebaliknya, mereka akan menyelidiki L.”

“…” Ryuuku hanya tercengang mendengar analisis Raito.

“Orang yang menemukan L… bukanlah aku.” Ucap Raito. “Setidaknya mereka akan mengungkap siapa dia, kemudian memusnahkannya.” Raito memasuki pintu rumahnya, “Polisi akan mengungkap siapa dia sebelum mereka mengungkap siapa aku.”

“APA INI?!” tanya si ketua, ayah Raito pada tiga orang anak buahnya yang berdiri di depannya. Mereka memberikan tiga buah surat.

“Ini surat pelepasan jabatan kami.” Ucap mereka.

“Kami mau ditugaskan kembali. Bagaimanapun, jika kau tidak bisa, kami akan mengundurkan diri.” Ucap salah satunya.

“Kenapa…?” tanya si ketua.

“Kenapa? Karena kami masih sayang nyawa kami.” Ucapnya. Semua orang disana langsung menatap ke arah mereka. “Seperti yang L katakan, Kira memiliki kekuatan batin yang dapat membunuh orang tanpa meninggalkan sidik jari pada korbannya, benar?”

“Kalau aku adalah Kira, aku pasti akan membunuh orang yang menghalangiku.” Ucap salah satu dari tiga orang itu.

“Lagipula, jika kami menangkap dia, dia juga pasti akan dihukum mati.” Ucap yang lainnya.

“L telah mengejek dan menantang Kira untuk membunuhnya melalui televisi, kan?! Tapi dia bahkan tidak mengungkap siapa dirinya di depan publik.  Dan baru-baru ini kami memeriksa bagaimana korban muncul di media Jepang, ‘temukan foto wajah mereka yang di edarkan’…” ucap salah satu dari tiga orang itu. “Dan mereka..! setiap orang yang menjadi korban adalah mereka yang wajahnya dipublikasikan ke masyarakat umum! Berarti setiap investigator yang menunjukkan identitas polisinya… berpotensi menjadi target!!”

“Dia bisa membunuh kami kapan saja.”

“Kami mohon untuk dipindahkan ke departemen yang baru, pak.”

“Terima kasih atas pengertian anda.” Mereka bertiga lalu pergi.

“Hei, kalian, tu-tunggu sebentar!!” ucap ketua itu, namun mereka bertiga tidak kembali.

Setelah keributan itu, orang-orang di ruangan itu mulai berbisik-bisik, “Jika kau memikirkan itu, mungkin orang-orang itu benar.” “L aman di belakang komputernya, dan entah dimana, sementara kita dalam bahaya.”

“Aha, jadi Kira harus tahu wajah sang target untuk membunuh mereka?” L menyaksikan apa yang terjadi di sana melalui monitor yang dihubungkan Watari.


“Ini sebenarnya sangat  sederhana untuk dilakukan.” Ucap Raito tiba-tiba.

“Apa? Menyembunyikan Death Note-nya?” tanya Ryuuku.

“Ya.” Sahut Raito. “Di dalam laci ini.” Ia menunjuk laci di samping meja belajarnya.

Ryuuku yang melihat itu hanya seperti laci biasa, kebingungan. “Bagaimana kau akan menyembunyikannya?”

“Tidak masalah jika kau lupa dan meninggalkan kunci disini atau membiarkannya terbuka.” Ucap Raito. Ia lalu membuka laci itu, dan ternyata isinya hanya sebuah buku diary.



 “Tapi… itu hanya diary biasa.” Ucap Ryuuku.

“Orang-orang hanya akan berpikir bahwa ini diary biasa yang mencatat peristiwa sehari-hari.” Ucap Raito. “Tapi kunci sebenarnya disini.” Ia mengambil sebuah polpen di dekat sana,

“Tidak akan ada yang curiga meski ini tergeletak di mejaku.” Ucap Raito lalu membongkar polpen itu, “Sebuah isi polpen.”

“Ada lubang kecil di bawah yang sulit untuk dilihat.” Ucap Raito. Memang benar, jika laci dibuka, akan terlihat lubang kecil dibawahnya. “Lalu tusukkan isi polpen ke lubang itu…”



 
CTAAAKK!! Terbukalah tempat persembunyian di bawahnya, dimana Death Note berada.

“Aha, tempat persembunyian. Pantas saja kau sangat berhati-hati dengan kayu yang kau beli di toko material.” Ucap Ryuuku. “Dengan ini dan diary palsunya, tidak akan ada seorangpun yang menemukan Death Note itu.”

“Tidak hanya itu.” Ucap Raito.

“??”

“Meskipun seseorang mengetahui tempatku menyembunyikannya pun, mereka tidak akan menemukannya.” Raito menunjuk ke lubang dimana isi pensil tadi ditusukkan, ada semacam kabel-kabel yang menghimpitnya. Death Note-nya pun dilapisi oleh semacam kantong . “Lihat? Jika kau tidak menusukkan isi polpen yang terbuat dari plastic ini disini, maka akan terbentuk sirkuit elektrik yang sempurna. Dan ketika itu terjadi, maka akan menimbulkan percikan yang akan membakar kantong gas ini dan menghancurkan notebook  itu.”



Raito lalu menunjuk bagian atas papan kayunya, terdapat sesuatu yang menjulur panjang, “Dan ketika bagian ini ditutup, potongan karet ini akan membatasi antara besi dan pemicu. Dengan kata lain, jika kau tidak membukanya dengan ‘kunci’nya… jika mereka membukanya secara instan, maka notebook dan semua buktinya akan hancur.”

“…”

Raito tersenyum,”Aku hanya bisa bilang, ‘aku tidak mau orang lain membaca diaryku yang sebenarnya’.”

“Aku mendengar bahwa manusia yang memegang Death Note akan khawatir dimana akan menyimpannya…” ucap Ryuuku. “Tapi, kau mungkin orang pertama yang melakukannya sejauh ini, Raito.” Kemudian Ia melanjutkan, “Tapi… itu berbahaya. Kalau kau buat kesalahan maka akan terbakar.”

“Bahaya? Itu hal yang aneh untuk diucapkan, Ryuuku.” Ucap Raito. “Masalah ini sudah bahaya sejak awal. Tetapi bahaya itu sendiri tetap membuatku merasa aman.”

Raito menyandarkan badannya, “Yang mana yang akan kau pilih? Rumah ini terbakar atau dihukum mati?”

“…”


---Markas FBI---

“Ya, aku ingin kau menyelidiki polisi Jepang dengan menyeluruh dan rahasia… terutama yang berhubungan dengan kasus Kira ini.” Ucap L kepada direktur FBI melalui alat komunikasi yang dihubungkan.

“L, apa maksudmu salah satu dari investigator?” tanya sang direktur FBI.

“Ya.”

“Kami sudah menyerahkan kasus ini…”

“Kira sudah membunuh 327 penjahat Amerika. Itu jumlah yang lebih besar dibandingkan dengan Negara lain yang mengalaminya juga.” Ucap L.

“Baiklah, kami akan melakukannya.”

“Terima kasih.” Ucap L. “Dengan reputasi FBI, aku yakin kau akan melakukan yang terbaik.”

                



Bersambung ke: Death Notechapter 5

Tidak ada komentar:

Posting Komentar