Sabtu, 19 Januari 2013

Versi Teks Defense Devil Chapter 07






Kucabara berlari dengan Bichiura dipundaknya, menuju ke tempat dimana kira-kira Ia dapat menemukan Inocence Item.
“Tuan, saat Nami dibawa pergi, Ia sempat bilang ja…ja….apa, ya? Lalu juga toko bunga.” Ucap Bichiura.
“Dia bilang begitu, ya? Lalu apa lagi?” tanya Kucabara.
“Aku lupa.”
Setelah cukup lama berlari, akhirnya Kucabara dan Bichiura sampai di sebuah toko bunga.
“Ini toko bunga dekat stasiun temapat Nami meninggal.” Kucabara mengidentifikasikan. “Bagus, Bichiura!!!” tiba-tiba saja Kucabara ber-tos-ria dengan anak buahnya yang awalnya menentangnya itu.
TOSSS!! “Tuan juga sudak bekerja keras!” ucap Bichiura. Akhirnya mereka masuk ke toko bunga itu. Di dalam toko mereka disambut oleh seorang penjaga toko berjenis kelamin banci -,-a
“Selamat datang~ kami akan membagi kebahagiaan dengan anda.” Sambut si penjaga toko. “Apa yang anda cari di toko bunga peri ini…? Tuan malaikat?”
“JANGAN BERCANDA!!” Bichura menendang penjaga toko itu hingga Ia pingsan. “AKU INI SETAN!!!”
“A-apa yang kau lakukan, Bichiura?” tanya Kucabara setelah melihat penjaga toko itu pingsan.
“Soalnya dia memanggilku malaikat. Huh!”
“Dasar!! Jangan membuat masalah! Sudah tidak ada waktu lagi, kita harus segera menemukan Inocence Item.” Kucabara mengambil semprotan spray di dalam tasnya. “Devil Search Spray! Apapun… yang berhubungan dengan Nami kumohon bereaksilah!!”
CIIISSSSSSSTT!!!!
Nami hanya dapat menatap dengan pandangan hampa pada neraka yang membentang di depannya.
“Hey, kalau anjing peliharaan manusia dikumpulkan lalu dibiarkan tanpa makanan kira-kira ini yang akan terjadi…” ucap Ponzol. “Anjing yang terkuat akan berkelompok lalu mulai memangsa sesame yang dimulai dari anjing yang lemah…” Ponzol tersenyum licik. “Kalau anjing yang kelaparan melakukan itu… bagaimana dengan manusia? Bagaimana kalau yang dikumpulkan para manusia sesama para penjahat yang menginginkan kesenangan.”



“Selamat datang di nerakaku, Eating Hell.” Terlihat Nami dan Ponzol berdiri di atas sebuah tonggak kayu. Di bawah sana, nampak manusia yang saling memakan satu sama lain sampai bangkai-bangkainya.
“Aku pria sejati dan tidak akan menyiksa secara langsung kriminal. Di nerakaku rasa sakit tidak diberikan secara langsung tapi dihasilkan. Kelaparan yang sangat dashyat…hingga kau mati kelaparan…yang lemah akan dimakan oleh yang kuat…tapi berapa kalipun kalian mati arwah kalian akan bangkit kembali.”
Tubuh Nami bergetar dan air matanya menetes. Tentu saja Ia tidak dapat menahan rasa takut yang dirasakannya. Meski begitu Ponzol tetap melanjutkan penjelasannya. Bahkan kali ini Ia mendekatkan bibirnya di dekat telinga Nami.
 “Berkelahi dengan sangat menyedihkan dan dimakan secara kejam… dan itu berlangsung secara berulang-ulang…” Ucap Ponzol. “…selama 4000 tahun.”
Nami tidak dapat bertahan lagi, Ia berlutut dan memegang tangan Ponzol memohon belas kasih. “Tolong aku… kumohon tolong aku!!” pintanya. “A..aku tidak bunuh diri! Percayalah padaku!!!”
Namun Ponzol nampaknya tidak memiliki rasa ke-perishinigami-an(?). ia menjambak rambut Nami dan melemparkannya ke neraka di bawah.
“Kyaaaaaaaaaaaa”
Sementara itu di toko bunga, Kucabara hanya melongo tak percaya.
“Ke…kenapa…” Ia melihat sekitar area yang disemprot. “…tidak ada yang bereaksi.”
“Aneh, padahal jika Nami pernah ke tempat ini, seharusnya ada yang bereaksi. Bichiura, kau tidak salah, kan?” tanya Kucabara.
Namun Bichiura hanya terdiam melihat ke sebuah benda. “…”
“Ayo, kita cari lagi!” Kucabara menggeledah toko bunga itu. Belum menyadari tidak adanya respon dari Bichiura. “Kau tidak menemukan sesuatu di stasiun?”
“Tuan~ waktunya!?” ternyata yang dilihat Bichiura adalah jam dinding. “…pasti sekarang Nami…”
“Bichiura, kau sudah lama bersamaku tapi belum juga mengenalku…” Kucabara menatap Bichiura. “Aku lelaki yang tidak pandai menyerah. Ini belum berakhir.”
Nami berhasil berpegangan di tonggak kayu itu. “uuuh….uhhh….”
Para ‘narapidana neraka’ itu langsung membabi-buta begitu melihat Nami yang merupakan ‘daging segar’ dimatanya. Mereka berkerumun di sekitar tonggak kayu itu sambil berkata “Makan…! Makan….!” . Sehingga tidak diragukan lagi, jika Nami terjatuh, sudah ada yang siap ‘menangkapnya’ dibawah.
“Padahal kau itu bunuh diri… tetapi… memperlihatkan tekad yang kuat untuk bertahan hidup.” Ucap Ponzol. “Sebagai imbalannya akan aku… ceritakan sesuatu yang menarik.”
Karena tidak menemukan apa-apa di toko bunga itu, Kucabara dan Bichiura memutuskan pergi ke stasiun. Namun stelah sampai disana, tidak terlihat sesuatu yang layak dianggap bukti. Semua telah disingkirkan ketika Nami meninggal.
“Lihat, aku benar, kan, tuan….” Ucap Bichiura. “Tidak ada petunjuk yang tertinggal sedikit pun.”
“Sial. Padahal seharusnya tidak begini.” Desis Kucabara.
“…Apa kau tahu kekuatan Shinigami… saat dimana kau kehilangan keseimbanganmu…” cerita Ponzol. “Seharusnya kau tidak sampai jatuh ke rel. Tapi kau terjatuh, karena sedikit campur tangan olehku…” Ponzol tersenyum licik. “Kalau tidak berbuat onar di dunia manusia, maka… Shinigami juga tidak bisa hidup.”
“Permisi…” ucap seorang kakek tua pada Kucabara. Kakek itu membawa setangkai bunga. “…disini tempat orang yang menolongku meninggal.” Kakek itu menaruh bunga itu tepat di tempat dimana Nami terjatuh ke rel. Ia kemudian berdoa.
“Kakek… jangan-jangan itu untuk Nami….?” Tanya Kucabara.
“Apa nona yang meninggal disini namanya Nami?” kakek itu balik bertanya. “nona itu bagaikan malaikat. Dia telah meminjamkan jaket ini padaku, yang hampir mati karena kedinginan.”
“Tidaaaaaakkk!!” teriak Nami, pegangannya lepas, namun Ia berhasil memegang tonggak kayu yang lainnya.
“Cepaat kesini…” “Gyaaaa” ucap narapidana-narapidana neraka.
Ponzol tertawa terbahak-bahak. “Kau tidak belajar dari pengalaman! Tampaknya aku harus melakukan sesuatu sekali lagi!” Ia melempar sebuah batu ke bawah, dan…
Kakek itu mulai bercerita tentang apa yang Nami telah lakukan padanya. Jadi waktu itu…
-----flashback-----
Hari itu turun salju. Orang hanya pada sibuk mencari romantisme saat hujan salju yang tiba-tiba turun. Tidak ada seorangpun yang memperdulikan tunawisma sepertiku…
Namun tidak juga. Waktu itu Nami memperhatikan kakek yang kedinginan di tengah hujan salju itu. Ia melepaskan jaket yang dikenakannya dan menyelimuti kakek itu.
“Aku akan segera naik kereta, kok…” ucap Nami kemudian tersenyum.
Aku merasa dia(Nami) sangat sedih. Tetapi wajahnya penuh dengan harapan… anak itu berkata padaku,
“Berusahalah, kakek… ada pribahasa mengatakan, ‘walau besok dunia hancur, hari ini aku akan menanam pohon apel’”
-----flashback berakhir-----
“Aku sudah mengerti sekarang…” pikir Kucabara tersenyum puas. “…ternyata begitu…”
Sementara itu, batu kecil yang dilempar Ponzol mengenai dahi Nami dengan suara ‘tuk’ pelan. Namun tanpa disangka-sangka dorongan batu itu mampu membuat pegangan Nami terlepas…
Dan… dan Nami terjatuh ke kumpulan ‘penyantap sesama’ itu… semakin ke bawah…dan… dan….
BAAATTTSSS!! Tepat pada waktunya, Bichiura terbang dengan sayapnya menyelamatkan Nami. Kucabara mendapat bagian yang menangkap tubuh Nami.
“Walaupun ini sangat membingungkan…tapi aku sudah berhasil memecahkannya…” ucap Kucabara. Ia menyenderkan Nami di salah satu tangannya, sementara tangan lainnya memegang jaket. Jaket Nami yang dikenakan si kakek tua di stasiun. “Sekarang aku akan mengatakan… Argumen terakhir untuk Nami.”



Tidak ada komentar:

Posting Komentar