Sabtu, 09 Februari 2013

Versi Teks Defense Devil Chapter 08



Sebelumnya: DefenseDevil Chapter 07
“Anak itu berkata padaku, berusahalah kakek.” Ucap kakek itu pada Kucabara. “Ada pribahasa yang mengatakan, ‘walau besok dunia hancur, hari ini aku akan menanam pohon apel’.”

Sementara itu, tubuh Nami sudah dijatuhkan ke neraka…

“Kakek, bolehkah aku meminjam jaket itu?” tanya Kucabara. Kemudian Ia mencari-cari sesuatu di kantong jaket tersebut, dan nampaknya menemukan apa yang Ia cari. “Sudah kuduga… semua teka-teki itu sudah terpecahkan.” Ucap Kucabara.




Ponzol sangat terkejut sekaligus marah melihat Kucabara datang menyelamatkan Nami. Ia langsung turun ke bawah sambil membawa pedangnya.

“Kucabara…” desah Nami pelan.

“Kau sudah sadar rupanya…” ucap Kucabara. “Kau pasti menderita, kan?...Aku sudah datang, jadi kau bisa sedikit lebih tenang.”
Tiba-tiba saja Ponzol dan pedangnya sudah ada dibelakang Kucabara, dan Kucabara kesulitan bergerak karena Nami memeluknya.

“Waah, tunggu…” ucap Kucabara gelisah. “Hei, Nami, kau memelukku terlalu erat…” Ponzol sudah pada jarak tebasnya. Ia menebaskan pedang itu ke kepala Kucabara, namun dengan gesit Kucabara menunduk sekaligus menyundul kepala Nami hingga ikut menunduk. xD

Sundulan pesepak bola Kucabara itu(?) rupanya mengejutkan Nami hingga membuatnya terjatuh dari atas Bichiura.

“Namiiiii!!” Kucabara melompat untuk menangkap Nami.
“Tidaakkk…”

DRAAAPP, Kucabara mendarat ditanah dengan Nami di pegangannya. Tidak, benar-benar dipegangannya.


 
“Kucabara…” ucap Nami.

Ponzol tertawa puas, Kucabara masuk ke dalam jebakannya. “Hahaha, dasar lalat bodoh! Pada akhirnya kau sendiri yang melompat ke dalam neraka milikku!”

Memang benar. Kucabara melompat ke dalam neraka dan sekarang para pemakan daging manusia itu ada disekelilingnya, berteriak-teriak kelaparan. “Daging segar datang!” “Ayo kita makan sampai tulang-tulangnya!”

Para kanibal itu menyerang Kucabara hingga Ia menjadi satu titik yang terpusat. Buru-buru Ia mengeluarkan bukti yang akan dia ajukan. Ia mengeluakan jaket, jaket yang dipinjamnya dari si kakek tua.

“Ponzol, ini jaket yang dikenakan seorang tunawisma di dekat lokasi kecelakaan.” Ucap Kucabara. “Pemilik jaket ini adalah Nami… Nami melihat tunawisma yang kedinginan, dan memberikannya jaket ini… karena itulah dia meninggal dengan pakaian tipis!”

“Hahaha, lalu kenapa? Walau kau membuatnya menjadi baik, kenyataannya tidak akan berubah!” ucap Ponzol. “…Dia melompat ke rel kereta!” ekspresi Ponzol berubah, “…Dengan kemauannya sendiri, tanpa memperlihatkan keinginan untuk hidup.”

Kucabara berlari untuk menghindari kejaran para kanibal, Bichiura terbang disampingnya. Nampaknya Ia tidak sempat kalau harus naik ke Bichiura.
“Tuan, cepat ajukan keberatan.” Ucap Bichiura.

“Nami, kau memberitahu Bichiura soal toko bunga karena kau ingin memberitahukan bahwa kau habis membeli sesuatu disana, kan?” tanya Kucabara.

“Iya.”

“Kudengar ada pribahasa yang sering kau ucapkan agar tidak mudah menyerah…”

“Walau besok dunia hancur…” ucap Nami, “…Hari ini aku akan menanam pohon apel.”

Kucabara mengeluarkan sesuatu dari jaket Nami, “Lihat, Ponzol, ini ada di jaket Nami…dibeli tepat sebelum dia meninggal. Ini bukti yang menyatakan Nami tidak berniat bunuh diri. Ini adalah Innocence Item bagi kami.” Benda yang diambil Kucabara dari jaket Nami bertuliskan “Angel’s Garden” dengan gambar dua buah apel.

“Apa itu…” pikir Ponzol bertanya-tanya. “…bibit… apel!?”

Bichiura sudah berubah ke bentuk semula, Ia berdiri diatas sebatang kayu.

“Souka, bibit tumbuhan adalah simbol harapan…” ucap Bichiura. “Membelinya sebelum meninggal…”

“Artinya dia memutuskan dalam hati untuk menanam apel. Dan ini tidak bisa dikatakan sebagai tindakan orang yang ingin bunuh diri!!” ucap Kucabara memegang bibit apel itu tinggi-tinggi. Ia melirik ke arah Nami, “Benar, kan? Nami?”

Nami tersenyum, dan terlihat wajahnya bocor… eh, maksudnya dia meneteskan air mata… “Benar… terima kasih…”

Kontrak yang ada di tas Kucabara tiba-tiba bersinar. “Kontraknya bereaksi, dia mengakuinya sebagai Innocence Item.” Ucap Kucabara.
Namun para kanibal sudah semakin dekat, “Daging! Daging! Daging!”

Dan, DOOORRRR!!! Kucabara berubah… rambutnya memutih, dan badannya nampak lebih kuat, dengan surai rambut yang berkibar bagai bendera di hari senin(?).

“Mundurlah…” ucap Kucabara. “…Para lalat kecil.”

Namun para kanibal itu malah semakin mendekat. Mungkin karena tubuh Kucabara yang agak sedikit lebih besar, mereka berpikir akan mendapat daging lebih(?).

Kucabara mengambil bolpoint pengacaranya, “Pen Sword: Mode Aktif.” Ucapnya, dan seketika bolpoint itu berubah menjadi pedang. Jraasss!!! Jrassss!! Kucabara menebas semua kanibal yang mencoba mendekatinya.

“Tuan, jangan lupakan janjimu!” teriak Bichiura mengingatkan. “Jangan berlebihan memakainya! Kalau berlebihan seperti sebelumnya… maka akan sulit bagi kita untuk kembali ke dunia setan!”

Kucabara membaringkan tubuh Nami di atas sebuah tiang, “Nami, aku bersumpah melindungimu… dengan membakar seluruh kekuatanku!!”

“Dengarkan kalau orang sedang bicara, dong! Baka!” teriak Bichiura. Sebuah benda pun melayang ke arahnya, entah benda apa lagi.

Seketika Kucabara sudah berada di belakang Ponzol, “Kau sudah memakai cara kotor dalam kecelakaan Nami…” Ucap Kucabara.

Ponzol spontan berbalik, “Apa kau… mau melawan shinigami!?” tanyanya. “Itu artinya, kau membuat seluruh setan di dunia setan menjadi musuhmu.” Ponzol langsung menyerang Kucabara dengan kayu-kayu tanamannya.

BRUAKKK!! Dengan Pen Sword-nya Kucabara menebas kayu itu.”Sepertinya kau belum mendengar kabar tentangku sepenuhnya…selama masih ada yang akan kulindungi,” ucap Kucabara. “Aku akan melindunginya sampai akhir. Walau harus kehilangan segalanya.”

Kucabara pun maju menyerang, “Aku Pengacara Kucabara. Berbicara tentang dosa klien kami, …”

“Sial!” ucap Ponzol berusaha menahan serangan dari Kucabara meskipun itu sudah pasti akan gagal, karena Kucabara-lah pemenang kasus ini.

“…Mempertimbangkannya dengan seksama dan dengan bukti yang terbaru, maka….” Kucabara menebas Ponzol hingga menjadi serpihan. “…Aku menyatakan; Nami tidak bersalah!”

Dengan kemenangan Kucabara, kematianpun terasa tidak wajar, dan waktu terulang kembali… Déjà vu~

Kereta akan segera melintas, mungkin akan menabrak gadis itu, namun dengan gesitnya Ia mengendalikan keseimbangannya, sehingga Ia selamat dari maut yang hampir saja menerkamnya…

“Apa kau baik-baik saja? Tadi sangat bahaya…” ucap seorang masinis.
“Benar! Kau hampir jatuh ke rel…” ucap seseorang diantara penumpang kereta.

“Aku baik-baik saja.” Nami tersenyum.
‘Apa yang sudah terjadi? Walau hanya sekejap, aku merasa banyak hal yang terjadi…’ pikir Nami bertanya-tanya. Ia tidak mengingat sama sekali apa yang sudah terjadi sebelum waktu diputar kembali.



“Eh…” seorang laki-laki mendekat ke arah Nami, Ia adalah Kucabara. Dengan Bichiura yang berpura-pura jadi boneka di pundaknya. “Tunawisma yang kutemui diluar stasiun ingin aku memberikan ini untukmu,” Kucabara memberikan Nami bibit apel yang Ia ambil dari kantong jaket gadis itu.


 “Wah, aku memberikannya jaket tapi lupa mengeluarkan ini…” ucap Nami. “…Maaf sudah merepotkanmu.”

“Tidak apa-apa.”

Kalau arwah dinilai tidak bersalah, maka kematian itu sendiri jadi tidak rasional dan membalikkan waktu. Lalu…

“Eh, apa aku pernah bertemu denganmu?” tanya Nami pada Kucabara.

Lalu arwah itu akan melupakan semua pengalamannya di dunia kematian…

“Mungkin.” Jawab Kucabara dengan sedikit tersenyum.


Kucabara pergi ke supermarket, Ia membeli beberapa.. ah, bukan. Sangat banyak ramen siap saji. Ramen dari dunia manusia yang sangat disukainya.

“Ahahaha, setelah bekerja keras, kau mengakhirinya dengan sok keren.” Ucap Bichiura yang ada di pundak Kucabara. “Selain itu, Dark Matternya habis total. Jadi kita terpaksa mulai dari awal lagi. Hey, apa kau mendengarkanku!?”

“Tapi kita memang harus melakukannya.” Ucap Kucabara sambil mengambil satu lagi ramen. “Kalau kita tidak ada, Nami pasti sudah masuk ke dalam neraka… aku ingin menolong lebih banyak orang yang menyesal. Aku semakin yakin itu. Karena yang paling mengerti… dengan perasaan mereka… adalah aku.”



“Uh, uh..” Bichiura tidak dapat memarahi kebaikan hati tuannya itu. Bukan salahnya jika Ia terlahir dengan hati yang baik dan berbeda dari yang lainnya. Mungkin saja ini bukan kebetulan,.. mungkin ini sebuah takdir. “Apa kau punya uang untuk membayarnya?” tanya Bichiura.

Dengan perlahan Kucabara menutup bibir Bichiura dengan jari telunjuknya, dengan gerakan –ssssttt!!!---.

Kemudian Kucabara kabur, dengan semua ramennya. “Ayo lariii!!!”

“Uwaaa~~~!!!”

Bisa dibilang sekarang mereka sedang mencuri.
nb: Jangan tiru adegan ini XDv

“Woooi, apa kau ingin ke neraka!!??” teriak si penjaga supermarket.

“Tidak mau!!” teriak Kucabara. “Aku tidak mau ke neraka lagi! Lain kali aku akan bayar.”

“Tapi, walau tidak jatuh ke neraka,…” ucap Bichiura. “Kau sudah dua kali mengganggu shinigami. Tuan pasti kembali menjadi target buruan.

Dan seperti dulu, semua setan akan kembali mengejar Tuan…”

“Tidak apa-apa, tidak usah takut.” Ucap Kucabara. “Walau besok dunia hancur, hari ini aku akan menanam pohon apel.”


Tidak ada komentar:

Posting Komentar