Kamis, 03 Januari 2013

Versi Teks Inuyasha chapter 3


Sebelumnya: Inuyasha chapter 2
“Kemarilah, biar kulihat lukanya…” ucap pendeta Kaede ketika mereka sudah sampai rumah. Para warga desa mengintip Kagome dari jendela. Inuyasha tidur-tiduran dengan bosannya. “Tapi, tempat apa yang kita biarkan tadi? Bola shikon sudah muncul lagi di dunia ini…”

“Aww” Kagome meringis ketika tangannya diobati.

“…para siluman yang menginginkan kekuatan itu akan segera berkumpul disini..” pendeta Kaede melanjutkan.

“Um… maksudmu, yang seperti monster…?” tanya Kagome.

“Tidak hanya siluman, tapi juga lelaki… yang semakin menggila…” ucap pendeta Kaede. “Di masa peperangan dan kekacau-balauan ini, bola empat arwah bisa mewujudkan ambisi jahat mereka menjadi nyata!” pendeta Kaede menjelaskan.

Kagome melirik Inuyasha. “Kau… kenapa kau ingin sekali bola itu…?” tanyanya pada Inuyasha. “Kau kan kuat. Kenapa kau butuh kekuatan lebih?”

“Dia hanya setengah siluman.” Ucap pendeta Kaede. Ucapan itu membuat Inuyasha marah. Ia memukul lantai kayu rumah itu hingga berbunyi KRAAKKK!!!

“Hei kau, Orang tua…! Kau bicara seolah kita pernah bertemu sebelumnya!!” bentak Inuyasha. “Kau pikir kau mengenalku, hah!?”

“Kau sungguh… tidak tahu…?” ucap Kaede. “Kau tidak kenal Kaede!? Adik dari wanita yang telah mengutukmu!?”

“Ka… Kaede…?”

“Itu sudah 50 tahun yang lalu… tentu saja, kami bertambah tua…”

“Kau…” Inuyasha mengingat-ingat. “Oh, kau ini dulu binatang? Lalu Kikyo…Lebih mengerikan daripada kau. Betapa menyebalkannya kalian, para manusia.”

“Kakakku… sudah mati.” Ucap Kaede. “Tepat hari yang sama saat Ia memantraimu.”

“Ho.. jadi begitu…penyihir yang menyulitkan dirinya sendiri… bagus.” Inuyasha tersenyum puas. “Senangnya mendengar kabar baik ini~”

“Inuyasha, kau tidak akan pernah merayakannya.” Ucap Kaede. “Masalahnya adalah reinkarnasi. Iya, kan, Kagome?”

“eh…”


“Kemampuanmu dari luar… kemampuan mistismu…” Kaede teringat ketika Kagome mampu melelehkan siluman kelabang. “Dan bola shikon tersembunyi di dalam tubuhmu. Apa ada alasan lain!? Kau terlahir untuk melindungi bola itu…” Kaede teringat bola shikon yang seharusnya musnah karna sudah dibakarnya bersama kakakknya.

“Ini pasti hanya gurauan…” ucap Kagome.



:Penduduk menyebutnya reinkarnasi dari nona Kikyo.” “Dia sungguh memiliki sikap yang begitu agung. Menurutku begitu.” Bisik warga desa ketika Kagome melintas. Mereka bahkan berdoa ketika Kagome lewat.
“Hah!!? Mereka berdoa padaku!!”

Sementara itu, Inuyasha terduduk di atas pohon dan terdiam merenung. “Huh.. dia… adalah Kikyo…” Inuyasha menyakini itu. Sebuah tomat segar melayang ke Inuyasha dari belakang. Tanpa berbalik, Ia menangkap tomat itu. “Eh…”

“Ini… ini bagian untukmu…” Kagome membawa beberapa tomat dan sayur-sayuran di tangannya.

“Apa semua makanan itu?”

“Penduduk desa yang memberikannya.” Ucap Kagome. “Turunlah…Kita akan membaginya.”

“…” Inuyasha terdiam. Pada akhirnya Ia turun. Ia memandang Kagome dengan curiga. “Apa yang sedang kau rencanakan?”

“Tidak… hanya…” Kagome memakan sebuah tomat. “Kau… benci padaku, kan?”

“Kau membuatku mual.”

“Dengar, aku… aku Kagome.” Kagome memandang langsung mata Inuyasha. “Aku bukan Kikyo.”

“…”

“Jika tidak, bisakah kita berteman?” pinta Kagome. “Kumohon…”

“Cih. Kau pikir aku bodoh?” Inuyasha tertawa melihat ekspresi memelas Kagome. “Aku tidak peduli siapa kau itu. Aku tidak akan menunjukkan belas kasihan sewaktu aku mengambil bola shikon.”

“Og, begitu? Baik… ada atau tanpa belas kasihan…” ucap Kagome. “Kalau aku bilang ‘duduk’… “

BRUUKKK!!!!
“Oh, maaf!! Aku tidak bermaksud begitu…”

-----Malam Hari-----

Kagome berbaring tidur disamping api unggun kecil. Tapi matanya belum terpejam.
“Ini sudah dua hari… sejak aku kemari…” ucapnya. “Ibu… kakek… Sota… mereka pasti cemas.” Kagome menghembuskan nafas pelan, “A..aku harus… menemukan jalan pulang…” Kagome memejamkan mata, bersiap tidur.




 
Dari jendela yang terbuka, seekor gagak mengintip ke ruangan tempat Kagome tertidur. Seekor gagak bermata tiga. Gagak itu terbang pergi.
Inuyasha yang duduk jongkok dip agar melihat gagak itu. Ia melempar batu kecil.

“Ini baru yang pertama, dia mencium bau dari bola shikon…” ucap Inuyasha. “Siluman gagak… pertanda masalah…”

-----Pagi Hari-----

“Sumur kering di hutan Inuyasha…” pikir Kagome sambil berjalan ke sumur itu. “Ini tempat dimana aku keluar pertama kali… mungkin… ini jalan pulang.”


“Kagome!” “Kagome!” “Semua melaporkan ke semua sudut desa.” “Dia tidak mungkin pulang sendirian ke alam baka” ucap warga desa yang mencari Kagome yang tiba-tiba menghilang. Dari atap diam-diam Inuyasha mendengar kabar kehilangan itu..

Kagome berjalan di sema-semak, menuju ke sumur itu. Tapi kemudian dari belakang Ia disekap secara tiba-tiba. MMPHH!!!

“Gadis… gadis…” Kagome dijatuhkan di sebuah rumah kayu. Disana ada banyak laki-laki yang memakai seragam prajurit.

“Kami membawa rubah betina asing--- yang kau minta, tuan.” Ucap salah seorang prajurit kepada orang gendut yang dipanggilnya tuan.

“Lepaskan aku!!” pinta Kagome. “Siapa kalian??”

“Bola…” ucap tuannya itu.

“Apa?” tanya Kagome.

“Serahkan bolanya! Bola shikon….”

Sementara itu, Inuyasha sedang berlari-lari di tengah hutan, melewati semak demi semak. “Kemana kau pergi?? Dengan bola empat arwah ada padamu…” pikir Inuyasha.”Gadis bodoh!”

Bulp!! Tuan bertubuh gendut itu berhasil mengeluarkan bola shikon dari tubuh Kagome. Ia membanting tubuh Kagome ke lantai.

“Oh!!” desah Kagome.
‘Tidak hanya siluman, tetapi juga para lelaki… yang semakin menggila….’ Kagome teringat ucapan pendeta Kaede.
“TIDAK!! BERIKAN!!” paksa Kagome.

TOK!! Tiba-tiba sebuah pedang tertancap di depan wajah Kagome, nyaris mengenainya. Tuannya itu bangun dengan pedang itu sebagai tumpuannya.

“Huh… pegang dia…” ucap tuannya.

“Ap-?” ucap prajuritnya.
“Hei, lihat apa…” ucap prajurit satunya.

Tuannya yang gendut itu melayangkan pedangnya ke tubuh Kagome yang dipegang oleh dua prajurit.

“Akan bunuh dia?” “Sangat disayangkan!”
SPRASSSSHHHH!!!! Meleset. Tebasannya meleset. Tebasan itu justru mengenai salah satu prajurit yang memegang Kagome.

“Tu-tuan?” tanya prajurit lainnya yang bingung dengan apa yang dilakukan tuannya.

“Huh!! Aku BULLPP~ salah sasaran…” tuannya menggosok-gosok tengkuknya dan menjulurkan lidah. “Sekarang… lehermu..” si gendut itu mengarahkan lagi pedangnya ke Kagome.

“Apa… dengan itu…” pikir Kagome.

“MATI KAU!”

“Tidak!!” Kagome berlari menghindar, SPRASSSH!! Serangannya meleset lagi. Kali ini memenggal kepala prajurit lainnya.

“Tuan, apa yang kau lakukan?” ucap seorang prajurit di dekat kepala yang menggelinding.

Kagome berhasil dipojokkan, kebetulan Ia melihat ada sebuah tombak disampingnya, dan digunakannya sebagai tameng. “Berhenti!! Jangan mendekat!!” namun orang itu tetap mendekat. “Tombak ini akan memanjang!! Aku tak akan segan…”

Belum selesai ucapan Kagome, pedang itu melayang dan menebas tombaknya hingga menjadi kayu pendek yang tak berarti lagi. Kagome pasrah dan menutup mata, menunggu mata pisau pedang itu menebasnya…


 GRAAKK!! Seseorang menghalangi tebasan itu.. Inuyasha. Ia bahkan membuat pedang yang menebasnya itu jadi patah.

“Inuyasha…”

“Apa!?” “Beraninya dia!?” ucap para prajurit.

“Kau datang untuk selamatkan…” ucap Kagome terpana.

“Dimana bola shikonnya?” potong Inuyasha.

“…menyelamatkan aku…?” sambung Kagome.

“Bola shikon!!” bantah Inuyasha.
“Jadi inilah dirimu…” ucap Inuyasha. Ia menutup hidungnya dengan bajunya. “Dasar kau, busuk!! Ini bau dari…setengah mayat yang busuk!”

“A-apa?” tanya Kagome.

“Tunjukan dirimu, siluman gagak!!” BATTSSS!! Inuyasha menebas tubuh orang gendut itu. Dan dari perutnya yang robek, terlihat seekor gagak bermata tiga.

“Ouuhh” “Aaaaahh!!” “Kyaaa!!” orang-orang disana terkejut. Termasuk Kagome.

“Menggerogoti tubuhnya sepanjang malam…”ucap Inuyasha. “…Untuk membuat sarang yang nyaman ditempati!?”

“Tuan… dia sudah mati?” “Tadinya, aku merasa… Ia bertingkah agak aneh.” Ucap prajurit-prajuritnya.

“Itu…” ucap Kagome. “Memuakkan.”

“Terlalu lemah untuk bertarung di kandangmu sendiri?” tanya Inuyasha, masih menutup hidungnya. “Atau bahkan untuk memainkan hidup?”
SEET, Inuyasha menerjang. “Keluar kau dari tempat busuk itu!!” JLEEBB, Ia menancapkan tangannya di lubang pada perut orang itu, gagak itu terdorong dan melesat keluar.

Gagak bermata tiga itu menggigit bolanya dan membawanya pergi.

“Bolanya!” ucap inuyasha. “Aku tak akan melepaskanmu! Jangan kabur kau, pecund*ng!!” mata Inuyasha terpaku pada sebuah busur dan panahnya yang tergeletak di lantai. “Ayo!!” Inuyasha mengambil busur dan panah itu juga menari Kagome.

“Dia tak akan bisa kemana-mana!” Inuyasha terbang mengejar gagak itu bersama Kagome di punggungnya. “Jangan hanya diam saja, bodoh!! Panah dia!!” perintah Inuyasha.

“Hei, memang mudah buatmu untuk bicara!!” ucap Kagome. “Aku bahkan belum pernah memegang busur…kurang lebih.”

“Siluman gagak itu…” ucap Inuyasha. “Memang, dia hanya menopang pada manusia. Apa yang akan terjadi jika Ia bertambah kuat!?”

GLUUPP..
“Dia menelan bolanya!!” pikir Kagome.

“Tetaplah terbang!” ucap Kagome.

“Tentu!!”
‘Hm,’ pikir Inuyasha. ‘sekali dia memanah gagak itu, … aku tidak akan membutuhkannya lagi!... tanah masih berada jauh di bawah…’
“Hanya satu serangan saja!!” ucap Inuyasha. “Kikyo ahli dalam memanah!!”

“Sudah kubilang, aku ini Kagome!!”

‘Tapi saat ini… aku sangat butuh kau…’ Kagome mengatur target panah busurnya. ‘Kikyo!!’ KRIEEEETTT… TASSS!! Panah itu diluncurkan. Mengarah tepat pada gagak itu, lurus. ‘Sempurna!’ pikir Kagome.



Tapi tidak juga. Panah itu langsung berubah arah alias jatuh.

“…” Inuyasha terdiam.

“Kau yakin Kikyo pemanah yang handal??” tanya Kagome.

“Aku yakin kalau kau itu bukan dia!!”

Sementara itu, si gagak perlahan berubah menjadi mahkluk yang lebih besar, hampir menyerupai naga…

Bersambung ke: Inuyasha chapter 4
(
http://esti-widhayang.blogspot.com/)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar